Persiapan Dini Menghadapi Seleksi

Publikasi : 25-04-2012 | Oleh : NN
Jaman sekarang ini, terutama di kota besar, di benak hampir setiap anak SMA tertanam rencana untuk melanjutkan kuliah. Ada yang rencana melanjutkan kuliah di swasta, ada juga yang ingin masuk Universitas Negeri. Ada yang ingin melanjutkan di dalam negeri, tapi banyak juga yang berencana kuliah di luar negeri.

Ada fakta yang perlu kita lihat bersama, yakni jumlah mahasiswa Indonesia di tahun 2011 ini diperkirakan sebesar 4.8 juta atau 18.4% dari total populasi usia 19 s/d 24 tahun. Pemerintah melalui menteri pendidikan mentargetkan tahun 2014 angka itu meningkat hingga 30% supaya menambah angka "kaum intelektual"dan diharapkan bisa mendorong laju ekonomi dan sector lainnya.  Fakta lain, data BPS di akhir tahun 2010 mengungkap tingkat pengangguran terbanyak di dominasi oleh sarjana dan diploma (11,92% dan 12,78% dari 8.32 juta pengangguran di Indonesia).  Dari seluruh angkatan kerja, lebih dari 50% adalah mereka yang lulusan Sekolah Dasar. 66,94% dari jumlah itu merupakan pekerja sektor informal, dan hanya 44% yang bekerja di sektor formal. Supaya tidak menimbulkan kebingungan, maka gambaran yang tidak linear dan seolah tidak berkaitan satu sama lain ini perlu di gabungkan dalam konteks yang lebih sederhana. Bahwa hingga saat ini, ekonomi Indonesia masih tergantung pada angkatan kerja lulusan Sekolah Dasar yang men-support pergerakan ekonomi negeri. Sementara orang-orang yang diharapkan menjadi pilar ekonomi Indonesia, yakni para sarjana dan diploma masih belum bisa sepenuhnya menyumbangkan keilmuan yang diperoleh semasa tahun-tahun belajar di  perguruan tinggi lantaran banyak ketidakcocokan antara permintaan dengan penawaran, antara kuantitas dengan kualitas, antara impian dan kenyataan. Impiannya siapa ?

Jika dilihat di berbagai media massa, cetak maupun online, tidak kurang-kurangnya banjir pengumuman lowongan kerja bagi sarjana maupun diploma untuk menawarkan posisi yang menarik. Seandainya di pasangkan, maka ada kemungkinan jumlah calon pekerja sarjana & diploma sesuai dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Namun realitanya, ketika hal itu di tanyakan pada perusahaan user, pada umumnya mereka bercerita bahwa sudah banyak pelamar yang di tes, namun sedikit yang memenuhi kriteria; dengan kata lain, banyak yang di seleksi namun sangat sedikit yang lolos. Pertanyaannya, mengapa demikian sulitnya? Apakah soal tes yang sulit, kriteria kerja terlalu tinggi, atau kualitas calon pekerja yang tidak memenuhi standard ?

Sudah banyak teori-teori dan penjelasan di seputar masalah SDM yang menunjuk pada faktor-faktor tertentu seperti kurangnya wawasan, pengetahuan, ketrampilan sang kandidat sehingga tidak memenuhi standard kriteria perusahaan terkait. Atau, faktor ketidakcocokan antara permintaan kandidat dengan penawaran perusahaan sehingga antara keduanya tidak tercapai kesepakatan. Faktor kedua ini umumnya terjadi pada level yang sudah strategis dan bukan di level pemula atau yang masih intermediate. Akhirnya banyak sarjana dan diploma yang tidak kebagian kerja karena alasan ketidakcocokan  yang sementara itu tidak bisa di jembatani. Dalam artikel ini saya ingin mengajak pembaca untuk melihat dan berpikir lebih dalam, tidak hanya menyalahkan kondisi atau standard yang ada, supaya setiap orang pada akhirnya bisa mengambil kendali atas kehidupan masing-masing.  
Membedah realita Persoalan yang terjadi di dunia kerja, bukan semata persoalan instan, melainkan hasil proses yang panjang. Artikel kali ini difokuskan pada sang pencari kerja daripada sang pencari pekerja karena walau bagaimanapun juga, pihak pencari pekerja punya kuasa dan kendali untuk menyeleksi serta menentukan pilihan mereka. 

Pernahkan terpikirkan mengapa SDM kita dianggap kurang padahal jika ditilik ternyata latar belakang sekolahnya keren dan ternama, mahal pula; baik itu di dalam maupun di luar negeri; mau itu di kota kecil, kota besar maupun kota kabupaten. Ada yang ketika di wawancara sangat baik, namun gagal ketika di psikotes. Ada yang sudah diterima namun gagal dalam masa percobaan. Sebenarnya, terlepas dari kualitas dan mutu sekolahnya, faktor apa yang membuat seseorang "berbeda" sehingga dianggap layak untuk di pertimbangkan?
You are what you do
Pertanyaan itu tidak mudah di jawab dengan cara melihat siapa diri kita atau dia sekarang ini, dari cerita-cerita, status, maupun dari kata-kata yang di cetak dalam Curriculum Vitae. Justru banyak orang terjebak karena CV yang bagus dan cerita mengagumkan yang diungkapkan kandidat. Namun ketika masuk dalam babak seleksi berikutnya, maka kesan yang dibangun mati-matian di awal pertemuan terlihat tidak sama dan sebangun dengan perjalanan hidup yang senyatanya  maupun kualitas diri yang riil. Pertanyaannya, apa saja yang terjadi selama beberapa tahun belajar dan kuliah; sejauh mana keseriusan mencari ilmu dan pengalaman jika setelah lulus ternyata masih belum  terlihat punya pijakan atau akar yang jelas.

Jika ditarik jauh ke belakang, dan jika ditanyakan kepada kandidat, apa sebenarnya motivasi mengambil kuliah? Apakah karena ingin maju atau karena didorong secara otomatis oleh keluarga (orangtua) untuk maju; apakah itu pilihan yang diambil atas ketertarikan keilmuan & keahlian, ataukah karena jalur tersebut lebih cepat dan menawarkan "kemudahan" dalam mencari uang. Selain itu, bagaimana mengelola waktu yang ada, apakah semasa kuliah lebih banyak bermain, bersosialisasi dan berhura-hura daripada proporsi belajar dan membangun karakter lewat kegiatan konstruktif yang konsisten.

Mengapa hal itu menjadi sangat penting, apa relevansinya ? Hubungannya berkaitan erat dengan pertanyaan mendasar yang muncul dalam diri setiap orang : Apakah yang menjadi cita-citaku? Sejauh mana aku mengusahakan untuk mewujudkan cita-citaku ? Karena dalam prakteknya banyak lulusan sarjana maupun diploma yang ketika di wawancarai masih bingung menyoal cita-citanya. Jika ditarik garis ke belakang secara linear, para remaja yang masih SMA pun saat ini kerap bingung jika ditanya apa cita-citanya dan apa yang menjadi pilihan studi-nya kelak. Kebingungan dan ketidaktahuan atas diri sendiri ini, memainkan peran penting dalam kehidupannya di masa mendatang, terutama saat memasuki dunia kerja. Karena setelah ditelusuri, ternyata jurusan yang dipilih bukanlah yang diminati; namun pertimbangan sekunder (kuliahnya cepat, keren, banyak temannya, kota nya lebih asik, kuliahnya santai dan gampang, mudah kerja, gaji besar) akhirnya mengalahkan minat sejati.

Pada akhirnya, tahun-tahun kuliah dijalani secara datar, bahkan terkadang merasa berat karena sulit menemukan kenikmatan dalam masa perkuliahan kecuali aspek bergaul dengan teman. Hal ini terjadi karena terlalu takut untuk mengambil keputusan yang mungkin sekali menjauhkan diri kita dari wilayah umum (common area) atau minimal supporter.  Yang ada kita enggan jika harus berjuang sendiri dalam jalur yang menurut sebagian orang, dianggap idealis. Akhirnya kita kuliah karena harus kuliah dan menyelesaikan kuliah karena harus lulus kuliah dan cepat-cepat cari kerja dan dapat uang. Sikap ini secara psikologis membuat kita tidak punya semangat dan ketekunan yang tinggi, kurang punya daya juang serta keinginan untuk selalu mencari dan menghasilkan yang terbaik. Dalam pemikiran kita, kalau kita tidak serius pun akhirnya lulus "jadi buat apa harus susah-susah"; apalagi jika kita punya keyakinan bahwa kalau sudah selesai kuliah pun, tidak perlu khawatir tidak punya pekerjaan, karena pekerjaan akan datang dengan sendirinya. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa mekanisme demikian membuat kita kehilangan kendali atas hidup ini, karena tidak punya banyak pilihan, dan bargaining power kita pun tidak kuat karena kualitas diri yang pas-pasan. 

Konsekuensi pilihan sejati Sikap berani memilih sesuai dengan minat dan panggilan jiwa, akan membuat kita lebih termotivasi untuk bereksplorasi, terus menemukan jawaban atas rasa ingin tahu supaya lebih bisa memegang kendali atas hidup ini. Keberanian itu sendiri sudah membawa konsekuensi logis yakni keberanian untuk menjaga komitmen. Berani memilih, berani bertanggung jawab.  Pahit-pahitnya, jika nilainya tidak bagus kita sadar bahwa kita harus berusaha menjadi lebih baik meski awalnya demi harga diri.

Konsekuensi dari memilih sesuatu yang bukan pilihan sejati, selain merasa datar-datar saja, kita pun tidak mengeluarkan energi dan motivasi yang optimal (the best we can do). Bahkan tidak jarang kita lebih fokus pada kegiatan non-akademik & non-formal untuk memperkaya dan memperamai CV kita kelak. Sebetulnya tidak ada salahnya untuk aktif dalam kegiatan keorganisasian maupun pertunjukan social. Semua pasti ada ilmu dan pengalaman yang bisa di petik. Namun, alangkah nikmatnya jika kita mengambil kuliah yang sesuai dengan panggilan kita, minat dan rasa ingin tahu kita, ditambah dengan kegiatan kampus dan di luar kampus yang mengaktualisasikan kemampuan serta bakat kita. Jadi bersifat complimentary.

Berbeda jika kita tidak suka dengan pilihan kita, namun karena "wajib" kuliah, dan yang penting cepat selesai dan cepat kerja, maka kita akan berusaha mencari kompensasi atas kehampaan hidup dengan cara mencari wadah yang dianggap bisa menjawab kebutuhan kita dalam menemukan makna diri. Masalahnya, wadah yang ada tidak cukup komprehensif dan kompleks untuk bisa menghadirkan rasa diri yang utuh dan realistik. Contohnya, kegiatan-kegiatan yang ada tidak mungkin cukup untuk membangun rasa bangga atas prestasi dan pencapaian yang diraih oleh kita atau seseorang karena bagaimana pun juga, pada umumnya kegiatan itu bersifat kolektif (teamwork) dan sementara (short term), semua hasil kerja bareng dan tidak semua orang mengerjakan seluruh proses dari a - z. Namun kelak ketika wawancara, dengan bangganya menganggap itu adalah karena jasa atau kehebatan kita.

Demikian pula dengan lulusan baru yang masih ke sana kemari, keluar masuk kerja dan berusaha mencari eksistensi. Kerap kali pengalaman keberhasilan di masa kerja sebelumnya dianggap  kredit pribadi sehingga hal itu  pula yang menjadi pertimbangan dalam  menuntut besarnya kompensasi dan fasilitas.  Inilah yang menyebabkan kesenjangan antara CV dengan realita, antara citra yang berusaha di tampilkan dengan kemampuan sejati dan kesiapan pribadi.  Mengapa  hal ini terjadi ? jawabannya, karena tidak ada akar yang kuat menancap pada kenyataan. Baik itu keahlian, pengalaman, ketrampilan maupun jati diri. Ada pepatah, tong kosong nyaring bunyinya, makin kosong makin nyaring suaranya. Makin kosong diri kita, makin kita berusaha  menutupinya dengan hal-hal yang menyilaukan mata.

Semua berawal dari pilihan hidup, apakah yang menjadi motivasi belajar, kuliah, sekolah, apakah hanya karena keharusan dan gaya hidup, ataukah karena mencari sesuatu yang bisa memperkuat fondasi diri. Jika kita mengawali  perjalanan hidup kita sendiri dengan mengingkari diri, selanjutnya kita harus terus berjalan dalam kebohongan dan kepalsuan itu. Dalam kepalsuan, tidak ada akar, yang ada hanya ada bayang-bayang ilusi, baik ilusi kesuksesan, ilusi kebahagiaan, ilusi ketenaran, dsb. Apa jadinya jika kita mengajukan "potret diri" yang sebenarnya adalah ilusi. Inilah yang menyumbang terbentuknya keraguan yang selalu berusaha di kompensasi (ditutupi) lewat berbagai cara.

Artikel kali ini sengaja di rancang untuk menjadi bahan refleksi kritis bagi setiap pembacanya, baik itu calon sarjana, calon mahasiswa, calon pelamar kerja. Apakah kita tahu apa yang kita tuju dalam hidup ini dan sudahkah kita berjuang untuk berjalan menuju tujuan kita yang tidak lain adalah panggilan kita, sudahkah kita menentukan apa peran kita di bumi ini. Bagaimana bentuk partisipasi kita untuk mengubah kehidupan orang-orang menjadi semakin hari semakin baik? Pertanyaan-pertanyaan itu yang akan menuntun kita untuk waspada pada pilihan kita, entah memilih untuk mendengarkan panggilan ataupun memilih untuk tidak memilih bahkan memilih pilihan orang lain, semua ada konsekuensinya. Namun, memilih sesuai dengan panggilan hidup dan minat sejati, membuat kita lebih sering  dan lebih berani memilih kuliah dan kegiatan yang bermanfaat dan selaras dengan tujuan kita meski menghadapi banyak resiko; dan kelak itu semua menjadi hal yang membedakan antara diri kita dengan orang lain. The courage to be.

Kesadaran ini lah yang harus di bangun sebelum dan selama menuntut ilmu agar masa-masa kuliah maupun internship, tidak berlalu sia-sia sebagai sebuah kewajiban semata atau senang-senang belaka. Masa kuliah, adalah masa krusial tahap lanjut dalam membentuk kepribadian & profesionalisme yang meski tidak tercetak dalam CV, namun terlihat dalam hasil psikotes.

sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel.asp

Kirim ke: